Selain menderita sejumlah luka fisik yang membekas di tubuhnya, perempuan yang bekerja sebagai tukang setrika di laundry milik majikannya Agus Santoso (sudah ditetapkan tersangka oleh Polres Kudus, red) itu, ditengarai juga mengalami gangguan psikis.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, dr Lukman Mulyadi, pihaknya memang akan mengonsultasikan masalah tersebut ke dokter spesialis jiwa.
”Ini terkait dengan riwayat yang disampaikan Mufiatun, kepada kami. Bahwa, dia dikurung di sebuah kamar selama tiga bulan. Nah, kondisi ini bisa saja menimbulkan rasa takut, atau perasaan-perasaan emosional nlainnya. Makanya, kami perlu berkonsultasi dengan ahli jiwa atau psikiater,” tuturnya, Kamis (13/10/2016).
Menurut Lukman, konsultasi ini diperlukan, agar bisa membuat Mufiatun lebih percaya diri, usai dirinya sembuh dari penyakit fisiknya nanti. ”Kita ingin supaya pikiran pasien bisa stabil. Termasuk juga apakah pasien membutuhkan penanganan lainnya,” katanya.
Apalagi, Lukman mengatakan jika saat ini Mufiatun mengalami sakit lambung. Ini bisa saja disebabkan karena faktor makanan atau pikiran. Sehingga pihaknya, akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan psikiater.
Mufiatun, diketahui selama tiga tahun belakangan ini, bekerja di rumah Agus Santoso, (28), warga Kabupaten Demak, sebagai tukang setrika. Majikannya itu memiliki laundry yang diberi nama Berkah, namun mengontrak di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati.
Satu hari di bulan Juni 2016, saat bekerja Mufiatun kelelahan dan akhirnya tertidur. Sampai akhirnya membakar salah satu pakaian yang sedang di-laundry. Agus yang melihat hal itu, langsung saja menyetrika perut Mufiatun, hingga lukanya masih membekas sampai sekarang ini. Tidak tahan dengan kondisinya, Mufiatun akhirnya nekat melarikan diri pada Sabtu (8/10/2016) malam, hingga akhirnya ditemukan tetangga dan dibawa ke rumah sakit. Sedangkan majikannya ditahan polisi dan ditetapkan sebagai tersangka.
”Penyakit lambung Mufiatun, bisa disembuhkan asal rajin mengonsumsi obat. Hanya saja, kalau masalah soal psikis yang bersangkutan, kita akan periksa lebih lanjut dengan dokter ahlinya,” kata Lukman kemudian.
Ibu Mufiatun Pasrah pada Pemerintah untuk Pengobatan Sang Putri
Mufiatun adalah anak kedua dari lima bersaudara. Dia sendiri menurut keluarganya, sudah tiga tahun ini menghilang entah kemana. Tercatat dia hanya satu kali pulang, setelah itu menghilang sampai keluarganya dikabari jika anaknya mengalami kekerasan saat bekerja.
Barsinah, (50), ibu kandung Mufiatun, mengatakan jika pihaknya saat ini hanya pasrah dengan kondisi anaknya. ”Sudah beberapa hari ini dirawat di rumah sakit. Semoga bisa cepat sembuh anak saya ini,” katanya.
Menurutnya, untuk biaya pengobatan bagi sang anak, pihaknya menguasakannya kepada pemerintah desa setempat. ”Pasrah saya kepada pihak desa. Supaya anak saya bisa diobati sampai sembuh,” jelasnya.
Selama tiga tahun bekerja, menurut Barsinah, anaknya itu baru pulang sekali. Bahkan, dari cerita yang didapatnya, anaknya itu tidak pernah digaji oleh majikannya.
”Kami dari pihak keluarga, sudah mencoba untuk mencari keberadaan Mufiatun. Karena sudah lama hilang tidak ada kabarnya. Tidak tahu kami harus menghubungi siapa,” terangnya.
Dalam wawancara dengan Mufiatun pada Minggu (9/10/2016) kemarin, dirinya mengatakan memang tidak memiliki telepon genggam. Sehingga tidak bisa memberi kabar kepada keluarganya di desa.
Namun, dari pengakuannya setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, ternyata Mufiatun dulunya pernah memiliki telepon genggam. Hanya saja, benda itu diambil oleh majikannya, dan dirinya disekap di dalam kamar untuk bekerja.
Selama empat bulan terakhir ini, Mufiatun memang dikurang di dalam kamar. Pekerjaan menyetrika juga dilakukannya di dalam kamar tersebut. Bahkan, dirinya hanya bisa ke kamar mandi jika pintu kamar itu dibuka.
Menurut ceritanya, dia hanya diberi makan jika pekerjaannya menyetrika sudah selesai dilakukan. Satu hari, saking kelaparannya, Mufiatun neka mengambil nasi tanpa izin kepada majikannya. Namun, aksinya itu ketahuan, dan dirinya dipukul di bagian dada oleh majikan.






0 komentar:
Posting Komentar