”Sebagian besar alasan permintaan dispensasi sudah hamil terlebih dahulu. Ini menjadi hal serius yang harus dicegah. Lama-lama, anak-anak muda bisa tak punya moral,” kata Ketua MUI Jepara, Mashudi.
Menurutnya, kondisi itu sudah menjadi pembahasan baik dengan internal MUI Jepara maupun dalam berbagai forum diskusi. Seharusnya, kata dia, hal itu tidak terjadi ketika anak mendapat perhatian dan cara memberikan pendidikan dalam keluarga tepat.
”Seharusnya keluarga menjadi laboratorium pendidikan anak. Kemudian dalam mendidik, orang tua harus mengedepankan akhlakul karimah, kemudian juga melakukan pengawasan yang tepat,” katanya.
Misalnya, lanjut dia, orang tua harus selalu mengontrol isi handphone atau gadjet yang dimiliki oleh anak. Harus dicek dan dipastikan bahwa anak mereka tidak bergaul dengan orang yang salah. Sebab, selama ini banyak ditemukan kasus dispensasi nikah terjadi akibat hamil dan sebelumnya juga akibat dari pergaulan bebas yang dimulai dari gadget.
”Untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan kerjasama semua pihak. Dari pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah konkret. Kemudian dari pihak lain seperti pemilik warnet juga harus ikut membantu mengatasi masalah ini dengan cara tidak menyediakan konten pornografi dan pornoaksi,” terangnya.
Khusus pihak MUI Jepara sendiri, pihaknya mengaku akan terus meningkatkan aktifitas dakwah yang berisi antisipasi terhadap pergaulan bebas bagi anak dan remaja.
Dalam catatan Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Jepara, sejak tiga tahun terakhir pengajuan atau permohonan dispensasi nikah di Jepara mengalami peningkatan. Pada 2013 lalu ada 88 kasus dispensasi. Namun, di tahun 2014 jumlah tersebut bertambah menjadi 110 kasus.
Ironisnya di tahun 2015 dipensasi kembali meningkat menjadi 161 kasus. Sedangkan hingga awal Oktober 2016 ini sudah ada 103 kasus permohonan dispensasi nikah.
Disdikpora Sayangkan Siswa Putus Sekolah Karena Menikah
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Ali Maftuh. (KORAN MURIA/ WAHYU KZ)
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Ali Maftuh mengemukakan, setiap tahun ada banyak siswa yang putus sekolah. Alasannya bermacam-macam dan yang paling mendominasi adalah faktor ekonomi dan menikah.
”Kalau angka pastinya untuk faktor menikah di usia dini kami tidak bisa mengetahui secara pasti. Sebab, sering saat ditanya jawabnya faktor lain, ternyata alasan sebenarnya menikah,” ujar Ali Maftuh.
Menurutnya, data yang masuk dalam instansinya, sebagian besar siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan sekolah lantaran memilih bekerja dan menikah. Untuk yang bekerja, mereka beralasan membantu orang tua maupun mencari uang untuk diri mereka sendiri.
”Kalau alasannya menikah itu sangat disayangkan. Mereka masih usia remaja, dan seharusnya bisa menikmati masa muda dan bersekolah hingga ke jenjang yang tinggi,” katanya.
Ia juga mengemukakan, setiap tahun jumlah siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan pendidikan bertambah. Tahun 2014 jumlah siswa lulusan SMP tak melanjutkan sekolah sekira 3.200 lebih. Tahun 2015 meningkat menjadi lebih dari 3.600 anak.
“Tahun ini angkanya berapa belum tahu, karena baru sebagain sekolah yang memasukan data siswa ke dinas,” imbuhnya.







0 komentar:
Posting Komentar