Bagi masyarakat Kudus, khususnya di sekitar Menara meyakini adanya mitos terkait sisa nasi jangkrik itu akan jadi pertanda kebutuhan sandang pangan di Kudus selama setahun ke depan.
Ketua Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) M Nadjib Hasan mengatakan, jika kepercayaan masyarakat terdahulu dan sekarang masih menjadi mitos, saat bungkus nasi berkah berupa daun jati kurang, maka diprediksi kalau nantinya kebutuhan pakaian akan susah. Sebaliknya jika masih tersisa, maka kebutuhan pakaian akan mudah dan murah.
”Ini hanyalah berita kuno, untuk benar dan tidaknya juga tidak dapat memastikan hal tersebut,” katanya.
Menurutnya, tanda itu sudah berkembang secara turun temurun. Namun tidak ada bentuk bentuk tulisan atau dokumen akan hal itu, melainkan secara turun temurun.
Selain itu, pertanda lain adalah dengan adanya Nasi Jangkrik yang dibagikan. Pertandanya adalah jika nasi berkah masih sisa, maka kebutuhan pangan Kudus akan tercukupi. Sebaliknya jika kurang maka harga pangan juga akan mahal dan susah.
”Kalau pada buka Luwur kali ini, alhamdulillah semuanya mudah. Termasuk juga dengan daun jati sebagai bungkusnya serta beras untuk nasinya masih sisa,” imbuhnya
Dengan demikian, bagi masyarakat melihat kalau hal ini maka kebutuhan pangan dan sandang Kudus akan terpenuhi dan juga murah. Namun kembali dia menegaskan kalau itu hanya mitos dan kepercayaan saja.
Mitos tersebut, sudah berkembang di masyarakat tidak hanya disekitar Menata Kudus saja. Namun juga sudah tersebar di beberapa wilayah Kudus khususnya yang pernah nyantri di menara.
”Tapi beberapa hal yang diutarakan Kannjeng Sunan itu terbukti. Seperti melarang menyembelih sapi. Buktinya, sekarang Indonesia malah import daging kerbau bukan sapi,” imbuhnya.






0 komentar:
Posting Komentar