Kamis, 13 Oktober 2016

Terlalu Menggiurkan, Bisnis Esek-esek di Pati Dinilai Tidak Akan Mati

(Pati) – Terlalu berat rupanya bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk menertibkan lokasi esek-esek yang ada di wilayahnya. Pasalnya, bisnis dari sektor ini tergolong menggiurkan bagi pelakunya.

Pengamat sosial Adiningtyas Prima mengatakan, bisnis esek-esek adalah bisnis paling mudah dan menggiurkan. Dari sisi ekonomi, prostitusi memiliki dampak bisnis yang menjanjikan. ”Mulai dari warung, jasa sewa kamar, dan sebagainya,” katanya, Sabtu (8/10/2016).
Sejak peradaban kuno, menurut Tyas, bisnis ini sudah ada. Sehingga sampai saat ini, bisnis ini juga masih lestari. Bahkan semakin menantang, apalagi jika kemudian ditentang.
Tyas menyebut jika hal ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Pati saja. Dan memang akan selalu sulit ditertibkan. ”Kalau berhasil ditertibkan, biasanya beralih ke tempat lain. Dulu saat bisnis serupa di Dukuhseti ditertibkan, mereka lari ke Margorejo. Termasuk, lokalisasi Gribig di Kabupaten Kudus ditertibkan, larinya juga ke Margorejo,” tuturnya.
Apalagi, menurut Tyas, pemerintah juga dinilai tidak tegas untuk menertibkan lokasi-lokasi yang dinilai menjadi bisnis esek. Bila pemerintah mau bekerja, lokalisasi jalanan yang bercecer di perkampungan, mestinya ditertibkan.
”Bahkan, kalau memang tegas, keberadaan bisnis ini dilokalisasi dengan baik. Sekalian saja dikelola dengan baik. Itu kalau pemerintah mau. Sebab kalau dibiarkan berceceran di perkampungan, justru bermasalah,” katanya.
Menurutnya, bisnis esek-esek tidak akan pernah habis. Meski sudah dibubarkan, mereka biasanya akan menempati lokasi yang baru lagi. Hal itu disebabkan bisnis ini sangat menggiurkan. ”Tinggal bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah itu dengan baik,” tandasnya.
Apalagi, menurut Tyas, keberadaan rumah esek-esek berdampak buruk pada citra Kabupaten Pati. Hal itu juga dianggap sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam menangani problem sosial.
”Masyarakat luas, pasti akan melihat Pemerintah Pati itu bagaimana. Bisa tidak menertibkan tempat esek-esek tadi. Kok, Pati menjadi tempat esek-esek yang nyaman. Orang tentu akan mempertanyakan komitmen pemerintah,” katanya.
Keberadaan rumah mesum juga akan berdampak pada citra, di mana Pati akan menjadi tempat referensi untuk berburu kenikmatan seksual. Mulai dari lokalisasi yang tersebar di sejumlah titik, hingga rumah-rumah di perkampungan yang menyewakan jasa short time.
Tyas berpendapat bahwa lokalisasi dan rumah mesum akan berpengaruh pada anak-anak muda. Kalau dia laki-laki, maka bisa meluapkan pengalaman seksual pertama dengan pergi ke tempat-tempat semacam itu. ”Dan kalau perempuan, mereka bisa saja berpikiran, untuk bekerja guna mendapatkan uang banyak secara instan, di tempat-tempat itu,” terangnya.
Yang memprihatinkan, biaya untuk menggunakan perempuan penjaja kenikmatan yang berada di ”lokalisasi jalanan” itu, sangatlah murah. Sehingga memungkinkan anak-anak muda mencobanya. ”Di Trangkil misalnya. Di sana, ada tempat lokalisasi liar dengan tarif mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu. Murah sekali, kan,” jelasnya. www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

0 komentar:

Posting Komentar